Rita tiaswari

Perempuan, 25 tahun

Yogyakarta, Indonesia

Keberhasilan adalah kemampuan untuk melewati dan mengatasi dari satu kegagalan ke kegagalan berikutnya tanpa kehilangan semangat.
| ::

Navbar3

Cari Blog Ini

Senin, 17 Oktober 2016

LINGkUNGAN YANG TERSAYANG

Cintai Bumi Ini, Jangan Sakiti Hanya Karena Bumi Tak Berkemampuan Lisan

Bumi telah memberikan kekayaannya untuk manusia, tapi manusia tidak memberikan imbal balik yang semestinya, sebagai generasi muda ayok kita tunjukkan bahwa kita peduli pada bumi! Jika kita belum sanggup membuat kebijakan-kebijakan yang selayaknya, kita bisa mulai dari hal-hal kecil.
1. Cintai bumi kita, tumbuhkan secara perlahan rasa cinta itu, jika rasa cinta sudah muncul maka sejatinya kita akan selalu menjaganya, merawatnya dan tidak akan menyakitinya.
2. Perwujudan cinta itu bisa kita maknai dengan membuang sampah sesuai jenisnya, melakukan 5R, menanam pohon, efisiensi energi, dsb.
3. Hal yang tidak asing bagi mahasiswa yaitu adanya gerakan aksi untuk memperingati hari bumi. Tujuannya supaya orang-orang yang awalnya tidak tahu hari bumi akan sadar bahwa hari ini adalah hari bumi, untuk menyadarkan orang-orang bahwa bumi kita perlu dijaga.
4. Jika belum bisa melaksanakan ketiga poin di atas, bisa kita maknai hari bumi dengan membuat tulisan sederhana yang menginspirasi, jika orang lain membacanya akan mengubah pikiran mereka tentang pentingnya menjaga bumi kita. Jika sebuah opini terlalu berat setidaknya kita sadar bahwa apa yang diberikan bumi tidak sebanding dengan penghargaan kita untuk bumi
5. Apabila manusia memang berhati batu, jika belum bisa memberikan kontribusi untuk bumi setidaknya jangan merusak bagian-bagian dari bumi.
Jika bumi bisa bercerita mungkin ia lelah merasakan berjuta-juta tahun dirusak manusia, padahal selama ini bumi telah menyumbangkan seluruh isinya untuk kehidupan manusia. "Aku tidak akan marah jika kalian (manusia) memperlakukan aku sebagaimana mestinya"

Selamat Hari Bumi 

Kamis, 05 November 2015

Salam Brotherhood

S a l a m Brotherhood buatmu....
Malam ini malam minggu,bisa jadi
*Kamu pergi keluar dan kopdar dan nongkrong disuatu tempat sampai jauuuh malam mendekati dini hari bahkan dini hari baru pulang,tanpa tahu yang sebenarnya tidak brani memastikan semalaman rokok satu bungkus habis atau bahkan sebotol minuman beralkohol sudah menemanimu...
Kamu kini berubah, sengaja menyembunyikan teman komunitasmu,
Kamu berubah,dari seorang yang penurut dan patuh,menjadi 'punya ego dengan pembenaran tidak mau dibandingkan 'ini aku...
Kamu berubah seolah menganggap perhatian bagai 'sebuah ceramah yang seolah membosankan
Kamu berubah,nada bicaramu sangat singkat,tanpa basa basi dan to the point...
Kamu kasar......mungkin karena kesal sehingga pintu menjadi sasaran
Kamu berubah,terlalu asyik dengan komunitasmu bahkan seolah kau rahasiakan semua kegiatan itu..padahal aku harus tahu
Semua demi kebaikanmu.....
Karena kamu adalah tanggungjawabku...
‪#‎Tak‬ terasa dua jam berlalu,semua demi kebaikan supaya dia bersekolah dengan lancar,tidak ada masalah disekolah.Terbayang wajah anak itu yang menjawab dengan sopan. Benarkah anak itu seperti yang disampaikan orang tua didepanku,yang sepertinya memiliki pemahaman agama yang luas,dan saya yakin tidak pernah melakukan kekerasan secara psikis.
Baiklah,nampaknya kita perlu bicara 4 mata,bisa jadi memahamimu yang sedang dalam proses pencarian jati diri.Mungkin saja saat perjumpaan nanti teori "Trait and Factor ataupun lebih cocok dengan Rational Emotive Teori ( RET) aku pakai.
Atau bisa jadi "dia awal aku katakan " Salam Brotherhood,karena kamu ternyata "salah seorang anggota "Bikers Community" diusiamu yang teramat muda,bisa jadi ada hal2 positif yang bisa membuat hubunganmu dengan orangtua sekaligus dengan statusmu sebagai pelajar dan hobbimu tidak menimbulkan masalah yang akan kamu sesali...
‪#‎Closed‬ -to be continued

Selasa, 01 September 2015

RELIGIUSITAS REMAJA

REVIEW 2
HUBUNGAN ANTARA RELIGIUSITAS DAN KECENDERUNGAN
PERILAKU DELIKUEN
       I.            BAB I
Apakah religiusitas berhubungan dengan kecenderungan perilaku delikuen  ( kenakalan) ?  Perilaku delikuen adalah  perilaku jahat atau kejahatan/kenakalan anak-anak muda yang merupakan gejala sakit ( patologis ) secara sosial pada anak-anak dan remaja  yang disebabkan oleh bentuk pengabaian sosial, sehingga mereka membentuk perilaku yang menyimpang.  Beberapa bentuk perilaku delikuen antara laib kebut-kebutan dijalan mengganggu keamanan lalu lintas, perilaku berandalan, urakan yang bersumber karena kelebihan energi, perkelahian antar gank, antar kelompok dan antar sekolah, antar suku, membolos sekolah dan bergelandangan sepanjang hari atau bersembunyi tempat terpencil, berpesta pora sambil mabuk-mabukan, kecanduan narkotika maupun penyimpangan perilaku  lainnya.
Dalam penelitian “Hubungan antara Religiusitas dan Kecenderungan Perilaku Delikuen ( Febri Rachmawati dan Dr.Sukarti ) bertujuan untuk mengetahui hubungan antara religiusitas dengan  kecenderungan perilaku delikuen. Skala religiusitas terdirin dari aspek  religiusitas antara lain menurut Ancok (1994 )  :
1)      Iman ( seberapa kokoh keyakinan )
2)      Ihsan ( seberapa dalam penghayatan atas agama yang dianut)
3)      Amal ( sejauhmana perilaku seseorang dalam kehidupan sehari-hari)
4)      Ibadah ( sejauhmana pelaksanaan ibadah seseorang)
5)      Ilmu (seberapa jauh pengetahuan tentang agama)
Selain itu skala ukur perilaku delikuen disusun berdasarkan kenakalan remaja yang diambil dari teori Hurlock  dan Jensen ( Sarwono,2002) antara lain :
1)      Perilaku yang melanggar  aturan dan status
2)      Perilaku yang  mengakibatkan korban fisik
3)      Perilaku mengakibatkan korban materi
4)      Perilaku membahayakan orang lain
5)      Perilaku membahayakan diri sendiri


    II.            BAB II
Anak-anak remaja yang termasuk dalam delikuen pada umumnya kurang memiliki kontrol diri atau justru menyalahgunakan kontrol diri tersebut, mereka suka menegakkan standard tingkah laku sendiri kadangkala meremehkan keberadaan oranglain, sehingga kejahatan yang dilakukan pada umumnya disertai dengan unsur mental yang subjektif, sehingga motif yang mendorong mereka melakukan kenakalan tersebut antara lain dikarenakan hal sebagai berikut :
1)      Memuaskan kecenderungan keserakahan
2)      Meningkatkan agresifitas dan dorongan seksual
3)      Salah asuh atau salah didik orangtua,sehingga anak menjadi manja dan lemah mentalnya
4)      Hasrat untuk berkumpul dengan kawan senasib dan sebaya, dan kesukaan untuk meniru-niru
5)      Kecenderungan pembawaan yang patologis dan abnormal
6)      Konflik batin sendiri, kemudian menggunakan mekanisme pelarian diri serta pembelaan diri yang iirasional.
Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa salah satu faktor penyebab timbulnya kenakalan remaja adalah tidak berfungsinya orangtua sebagai figur tauladan bagi anak ( Hawari;1997). Sebab keluarga merupakan lingkungan pertama  dari tempat kehadiran anak dan dan mempunyai fungsi  untuk menerima, merawat dan mendidik anak. Namun kenyataannya banyak remaja yang ketika ditengah keluarganya merasa tidak berarti, merasa terkungkung dan tidak berkembang, sehingga ketika dia bersama teman sebayanya menemukan komoensasi segala kekurangan ataupun hal yang tidak dijumpai ditengah keluarganya, sehingga keberadan komunitas pertemananya  para remaja merasa menemukan peranannya.
Kenakalan remaja itu sendiri sifatnya bisa psikis, interpersonal, antar personal dan kultural, maka kenakalan remaja dapat dibagi menjadi 4 kelompok  ( Kartini kartono:2005 ) antara lain:
1)      Kenakalan individual,  kenakalan yang muncul dikarenakan jasmniah dan mental yang dibawa sejak lahir, sehingga merupakan diferensiasi  biologis yang membatasi atau merusak kualitas fisik dan psikisnya
2)      Kenakalan situasional, kenakalan yang dilakukan anak normal, namun mereka banyak dipengaruhi berbagai kekuatan situasional stimuli sosial dan tekanan lingkungan, yang kesemuanya memberikan pengaruh menekan-memaksa pada pembentukan perilaku buruk.
3)      Kenakalan sistemik, merupakan kenakaln anak remaja yang siistematisir dalam satu organisasi  disertai pengaturan, status formal, peranan tertentu, nilai-nilai rite rite, norma-norma, rasa kebanggaan yang kesemuanya dirasionalisir dan dibenarkan diri sendirisegenap anggota kelompok.
4)      Kenakalan Kumulatif, merupakan produk konflik budaya dan merupakan hasil konflik batin kultural yang kontroversial, sehingga sesallu menimbulkan ketegangan sosial dan rasa kebencian , misalnya dikota besar terjadi banyak penyimpangan kejahatan.
Bagaimanakah religiusitas anak remaja kaitannya denhan kenakalan? Sejalan dengan penelitian ini religousiatas menjadi nilai yang multi demensi karena menyangkut banyak demensi yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan TuhanNya namun juga menyangkit kehidupan sosial  dan bagaimana mengatur dirinya sendiri. Konsep religiusitas pada masa remaja itu sendiri  mengalami suasana transisi yaitu situasi keagamaan yang berada dalam perjalanan menuju kedewasaa rasa religiusiatas yang menimbulkan rasa  tanggung jawab serta  menjadikan agama sebagai fiksafat hidup. Dinamika rasa keagamaan pada masa ini ditandai dengan  mulai berfingsinya conscience ( hati nurani ). Religiusitas pada masa remaja juga dipengaruhi adanya perkembangan emosi yang relatif masih kurang stabil, hal ini menimbulkan perasaan khawatir dan rasa kebingungan tersendiri.
      Akibatnya pada remaja yang kurang memahami makna religiusiatas agama yang dianutnya tersebut akan memiliki sifat kurang bertamggung jawab, sulit dikendalikan, perilaku yang sering melanggar aturan, sebaliknya anak yang mampu mengenal religiusitas keagamannya  akan mengembangkan sikap, keyakinan dan cara berfikir dan berperilaku tertentu yang berorientasi pada apa yang dilakukan dan tidak dilakukan kemudian menjadikanya dasar peningkatan kualitas hidup. Hasil dari pengaruh religiusitas ini sejalan dengan penelitian  yang dilakukan  dengan korelasi skala religiusiats dengan skala kenakalan remaja dengan Uji Product Moment Pearson untuk setiap aspek dari perilaku delikuen dan religiusitas didapat  kesimpulan antara lain sebagai berikut :
1)      Perilaku yang merusak aturan dan status berkorelasi  negatif dn signifikant dengan  iman, (Rxy=-0,495, p=0,000) ihsan (Rxy=-0,283,p=0,014) amal(Rxy=-0,476), ibadah (Rxy=-0,416 p=0,000) dan ilmu(Rxy=-0,437 p=0,000)
2)      Perilaku yang membawa korban fisik berkorelasi negatif dan signifikant dengan iman (Rxy=-0,398 p=0,000 ,Ihsan( Rxy=-0,321 p=0,005),amal (Rxy=-0,0304 p=0,008), ibadah(Rxy=-0,290 p=0,012) dan ilmu Rxy=-0,364 p=0,001)
3)      Perilaku yang membawa korban materi berkorelasi negatif dan signifikan dengan iman ( Rxy =-0,503 p=0,000 ), ihsan ( Rxy=-0,296 p=0,010 ), amal (Rxy=-0,304 p=0,008), ibadah (Rxy=-0,290 p=0,012 ), ilmu.(Rxy=-0,364 p=0,001)
4)      Perilaku membahayakan oranglain berkorelasi negatif dan signifikan dengan Iman (Rxy=-0,678 p=0,000, Ihsan (Rxy=--0,237 p=0,041),Amal (Rxy=-0,428 p=0,000 ),Ibadah  (Rxy=-0,454 p=0,00 )dan Ilmu R(Rxy=-0,464 p=0,000)
5)      Perilaku membahayakan diri sendiri berkorelasi negatif dan signifikan dengan Iman (Rxy=-0,573 p=0,000,Ihsan Rxy=-0,342 p=0,003),Amal Rxy=-0,523 p=0,000),Ibadah ( Rxy=-0,534 p=0,00) dan Ilmu (Rxy=-0,534 p=0,000)

 III.            BAB III
Dengan adanya hasil penelitian diatas maka perlunya pengembangan hati nurani remaja dengan pendekatan kognitif dan afektif yang dapt membantu remaja penjelasan religius yang banyak bersifat abstrak dalam suasana yang lepas tekanan, karena dinamika perkembangan religiusitas  usia remaja mengalam
i berbagai situasi yang dipengaruhi oleh dinamika internal remaja itu sendiri, serta kreatifitas ekstrenal sebagai faktor luar yang kondusif bagi perkembangan religiusitas.
Berdasarkan adanya korelasi antara kenakalan dengan tingkat religiusitas remaja, maka dalam hal ini perlu dilakukan upaya menanggulangi kenakalan remaja antara lain dengan :
1)      Meningkatkan kesejahteraan keluarga
2)      Perbaikan lingkungan, misalnya sekitar daerah yang memerlukan adanya pembinaan keagamaan
3)      Mendirikan klinik bimbingan psikologis dalam upaya memperbaiki tingkah laku dan membantu remaja dari kesulitan mereka.
4)      Menyediakan tempat rekreasi yang sehat bagi remaja.
5)      Memberikan latihan bagi remaja untuk hidup  teratur, tertib dan disiplin.

6)      Menggiatkan organisasi pemuda dengan program-program laytihan vokasional untuk mempersiapkan anak remaja delikuen sehingga siap didunia kerja.

Senin, 03 Februari 2014

Sayangi aku ayah.......

Pagi ini aku masih enggan terbangun, rasanya aku belum sempat liburan, ternyata aktifitas baru segera dimulai. Kunyalakan komputer sambil menunggu suara adzan berkumandang, dan kucoba kembali file draft tentang Studi Kasus yang akan kutuangkan menjadi sebuah karya ilmiah,sejenak aku berfikir dan mencoba menggabungkan apa yang ada dibenakku dengan beragam teori tentang pola asuh anak. Dan penggalianku belum usai,ada banyak hal yang ingin menjadi foku, peran ayah bagi perkembangan anak.
Dari berbagai hasil "jajah desaku milang kori" istilah yang aku buat ketika lagi dinas luar.
  1. Si A, beberapa hari tidak masuk sekolah akhirnya ketika aku ke rumahnya orangtua kaget bukan kepalang terutama ibunya, sedang bapaknya masih asyik asyik aja dengan "burungnya". Aku tahu  mungkin burung yang berada disangkar itu burung yang memiliki nilai jual, setahuku berkosar Rp 250.000-jutaan rupiah. Kulihat sekilas burung itu yang saling bersahutan, apa seeh yang menarik, okelah mamang suara dan bentuknya indah tapi bagiku rasanya sayang sekali uang segitu untuk seekor burung.Cuman yang aku tidak paham, kenapa dia malah asyik dengan burungnya, bukankah kedatanganku adalah atas  nama pihak sekolah dan biasanya karena anaknya lagi ada masalah  disekolah. Apakah sperti ini potret seorang ayah yang seolah menyerahkan segala urusan pendidikan pada seorang ibu.Begitu luar biasanya ibu, dia masih ikut juga membantu perekonomian keluarga dengan menunggu kios kelontong yang sekaigus kios "burung". Lalu cukupkah ayah menyerahkan urusan pendidikan pada sang ibu. Ditengah rasa kecewa juga kusampaikan kurangnya rasa kepedulian orangtua bahkan mengambil rapor ke sekolah saja sampai tidak ada waktu. ambil rapor itu adalah sebuah moment penting bisa sharing dengan bapak ibu guru disekolah sehingga bisa tahu perkembangan anak, dari pertemuan itu pula bisa saling memberi masukan dan pemantauan anak
  2. Si B, dengan karakteristik anak yang luar biasa, kadang aku heran dengannya masih usia remaja belum usia 17th orangtua sudah memberinya fasilitas sepeda motor. Rasa penasaran itulah ditambah beberapa hari tidak sampai sekolah membawaku melakukan tinjauan langsung. Agak terpana juga aku menjumpainya, orangtua yang petani dan terkesan hidup dengan kesederhanaan, jelas mereka orangtua yang sangat lugu, bahkan kukira HP saja pasti tidak bisa. Lagi lagi yang banyak berkomunikasi denganku adalah sang ibu, sudah kupancing berkali-kali supaya ayah itu mengatakan segala hal tentang anak, namun ayah yang pendiam itu seakan tidak tahu tentang anak, seorang ayah petani yang hanya tahu tentang sawah ladang yang dimilikinya tanpa tahu karakteristik anak.Disinikah peran ayah yang lugu, menyerahkan segala urusan anak pada sang ibu,yang dia pikirkan adalah hasil panen saja, semntara ibu yang terlalu memanjakan anak karena anak itu adalah anak bungsu diantara 4 saudaranya yang semuanya sudah besar, anak bontot kesayangan ibu,anak bontot yang selalu dimanja sang ibu?? Lihatlah anak itu dengan nakalnya telah mempergunakan fasilitas orangtua yang seharusnya diberi motor biar cepat sampai sekolah tapi kadang justru motor diparkir ditempat lain, sementara baru ini yang penggaian yang baru bisa.
  3. Perjalanan belu usai, sesampainya dijalan sekilas kulihat anak denganm seragam yang sama  kulihat dari kejauhan,yah,...benar bukankah dia si C, anak yang memang suka naik motor dengan kecepatan tinggi. Yah, anak itu memang ramah denganku dia sering menyapaku. Nmaun aku tak habis mengerti hari ini bisa-bisanya dia "kongkow' dijalanan berseragam sekolah. Rasanya kesempatan ini harus kuselesaikan, karena aku sudah tahu persis alamatnya langsung aku menuju sasaran, dan kujumpai dirumah itu seorang ayah bersama dengan neneknya, pada awalnya kusimpulkan ayah ini cukup perhatian dengan anaknya, dia memberi anak fasilitas dengan harapa anak bisa "ndalan" rajin sekolah. Namun tatkala pembicaraan bergulir dan nenek ikut nimbrung, dapat kuraba ada "konflik intern" dikeluarga ini.Yah..sang ayah yang seharusnya pemimpin nakhoda kapal mungkin saja tidak seiya sekata dengan sang ibu.Yang pasti ini baru yang tampak dipermukaan saja...
  4. Akhirnya pengembaraanku hari itu usai sudah, dan itu baru awaknya selanjutnya masih perlu pengembangan lagi, hanya catatan kecil bagiku bukannya aku memposisisikan pada sang anak kenakalan mereka bisa saja merupakan ungkapannya "Sayangi aku ayah"

Rabu, 02 Oktober 2013

Ngomong kasar..... ri

Sudah menjadi kebiasaan dikalangan remaja bicara kasar, namun yang terkadang aneh seolah itu hal yang biasa, seringkali mendengar anak menyebut nama temannya yang memang sudah akrab dengan sebutan "ny*k"..S**..dan sebutan lain dengan ungkapan sepontan misalnya "baji**r ataupun "semp**l.

Bahkan beberapa anak kadang memperolok temannya dengan sebutan yang sudah tidak semestinya dengan julukan yang bersifat memperolok nereka dengan masing masing,dari beberapa laporan bahkan anak merasa sakit hari dengan keadaan ini, terlebih bahan cemoohan yang dijadikan adalah orangtua mereka.

Pada keadaan ini, anak anak tidak mengerti adanya etika pergaulan yang harus dipatuhi oleh mereka,yang merupakan rambu-rambu dalam pergaulan.

Etika pergaulan adalah ketentuan sopan santun yang dipakai oleh manusia untuk saling bergaul. Etika ini mempunyai hubungan yang sangat erat dengan tata susila dan adat istiadat. Ketentuan sopan santun ini meliputi berbagai segi dan bidang kehidupan kita sehari-hari dan kadang-kadang suatu hal yang dianggap sopan di suatu daerah ternyata sangat tidak sopan di daerah lain. Hal ini disebabkan karena perbedaan dalam kehidupan sehari-hari serta latar belakang perkembangan dari kelompok masyarakat itu sendiri. Maksud dari pada etika pergaulan ini dikuasai adalah untuk membuat hubungan kita dengan orang lain lebih baik dan menyenangkan semua pihak yang kita aja bergaul, maka sangatlah disarankan agar dalam pergaulan juga mempergunakan perasaan sehingga orang di sekeliling kita akan merasa senang dalam segala suasana dan keadaan. Etika pergaulan bagi siswa berhubungan dengan mematuhi peraturan sekkolah dan berperilaku yang baik di lingkungan sekolah baik dengan teman, guru maupun petugas sekolah lainnya. Dengan demikian ketertiban di sekolah akan terwujud dan sangat menunjang keberhasilan siswa dalam belajarnya.

Beberapa etika pergaulan yang harus kita perhatikan itu adalah sebagai berikut:
1. Penampilan diri
Penampilan diri ini sangat erat kaitannya dengan kepribadian, oleh sebab itu maka disarankan untuk senantiasa memperhatikan penampilan diri dan sikap yang dapat diterima oleh semua fihak. beberapa penampilan diri itu antara lain : senantiasa selalu tampil dengan wajah yang segar, tampillah dengan pakaian yang bersih dan rapi, hindari bau badan dan bau mulut, rambut hendaknya ditata dengan rapi. Tidak memakai make-up secara mencolok.
Dengan berpenampilan yang menawan dan penyesuaian diri dengan kelompok sekeliling kita akan mempermudah pergaulan pada sesama tingkatan sosial masyarakat. Karena penampilan ini tidak saja mencakup bentuk dan diri pribadi sendiri akan tetapi perilaku dan tindak tanduk serta tata busana dan tata wicara mempunyai kaitan erat pula dalam menyempurnakan penampilan ini. Penampilan yang baik akan memberikan kesan yang sangat dalam pada orang-orang yang kita hadapi dan akan menimbulkan pula rasa hormat dan sayang sehingga terbentuklah suatu kepribadian yang khas.

2. Tata busana
Tata busana merupakan bagian yang penting dalam etiket, karena tata busana ini mencerminkan kepribadian seseorang, juga merupakan kesan pertama kepada orang lain yang dijumpai.
Beberapa yang patut kita perhatikan :
a.   Pilihlah busana yang sesuai dengan suasana dan keadaan, tidak perlu selalu harus berdasarkan pada mode yang terakhir.
b.  Hindari pemakaian busana yang sudah berbau, krag leher yang sudah menghitam.
c.   Pakailah atribut sekolah dengan lengkap (badge, lokasi, osis) dan baju hendaknya selalu dimasukkan.
d.  Hindari seragam sekolah dengan dicorat coret ataupun dirobek.
e.   Baju dan celana yang dikenakan hendaknya jelas lipatan setrikanya.

3. Tata Wicara
a.   Gunakanlah Bahasa Indonesia yang baik dan benar pada kegiatan belajar mengajar
b.  Apabila hendak menyapa orang yang lebih tua atau guru, maka selain harus berhenti sebentar, juga harus membungkukkan badan
c.   Tunjukkan minat untuk mendengarkan dan memberikan perhatian kepada lawan bicara dan berbicaralah dengan tidak memonopoli seluruh pembicaraan.
d.  Bila akan berbicara perhatikan apakah lawan bicara kita sedang atau tidak tidak bicara, dengan orangtua/ guru gunakan bahasa yang baik, bila memakai bahasa jawa hendaknya pakai bahasa “kromo inggil”
e.   Mengucapkan salam, sapa dan senyum kepada teman/guru. karyawan sekolah.

Perlu kiranya diketahui bahwa dalam bergaul tidak semua orang harus dijadikan kawan. Oleh sebab itu kawan yang dipilih hendaknya mereka yangmemiliki sifat-sifat yang dapat dijadikan kawan, yaitu antara lain:
1.   Orang yang berakal sehat/ baik
2.  Orang yang berbudi pekerti luhur
3.  Orang yang bukan golongan fisik (suka merusak) dan bukan orang yang bersifat munafik.


Untuk mempunyai teman yang baik dan untuk dapat menjadi teman yang baik ada beberapa syarat yang perlu diperhatikan. Syarat tersebut adalah :
§  Keikhlasan
Maksudnya jujur terhadap kawan dan diri sendiri, melaksanakan dengan cara wajar tidak pura-pura.
§  Kesetiaan
Seorang kawan yang setia, apabila kita dalam kesulitan/kesusahan selalu setiap saat sesdia mengulurkan bantuan.
§  Harus dapat dipercaya
Maksudnya harus dapat memegang rahasia, menepati janji dan waktu, saran dan pendapat tidak untuk menjerumuskan teman.
Selain hal di atas, di dalam bergaul dengan teman perlu memperhatikan adab-adab bergaul antara lain:
1.   hendaknya seorang jangan merasa dirinya lebih dari orang lain
2.  Hendaknya masing-masing menyadari dan menempatkan dirinya pada posisinya sendiri.
3.  Hendaknya saling menghargai, menghormati menurut posisinya.
4.  Hendaknya saling tolong menolong dalam kebaikan.
5.  Hendaknya bertutur kata yang baik, tidak menyinggung perasaan teman
6.  Suka meminta maaf dan memaafkan bila berbuat salah/ orang lain berbuat salah.
7.  Hendaknya tidak suka mengatakan hal yang buruk kepada teman, misal : mencela, memfitnah dan sebagainya.

Kamis, 22 Agustus 2013

Masa Remaja Masa yang Indah

Masa kanak-kanak, remaja, dewasa dan kemudian menjadi orang tua, hanyalah merupakan proses wajar dalam hidup yang berkesinambungan dari tahap-tahap tugas perkembangan yang harus dilalui oleh seorang manusia. Setiap masa perkembangan yang harus dilalui oleh seorang  manusia. Setiap masa perkembangan memiliki ciri-ciri tersendiri. Dan masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. Demikian pula dengan masa remaja, dimana pada masa ini remaja sering dianggap sebagai masa yang penuh gejolak, para ahli sering mengistilahkan sebagai “masa badai dan topan”, suatu masa dimana ketegangan emosi meninggi akibat dari perubahan fisik dan kelenjar. Masa remaja sering menimbulkan kekhawatiran para orang tua, sebaliknya bagi remaja sendiri yang mengalaminya, masa ini adalah masa yang paling menyenangkan dalam kehidupannya.
Awal masa remaja berlangsung kira-kira dari tiga belas tahun sampai enam belas tahun dan akhir masa remaja adalah usia 17 atau 18 tahun. Seperti halnya dengan semua periode yang penting selama rentang kehidupan, masa remaja mempunyai ciri-ciri tertentu yang membedakan dengan periode sebelumnya atau sesudahnya. Salah satu cirinya, adalah masa remaja sebagai usia bermasalah, dikarenakan remaja merupakan masa peralihan di mana seorang remaja sudah tidak patut lagi dikatakan anak-anak disisi lain, juga belum “wangun plus masih wagu” bila dikatakan orang dewasa, sehingga kadang-kadang mereka dalam mencari pola hidup yang sesuai dirinya dilakukan dengan cara coba-coba. Kesalahan demi kesalahan sering diperbuat, hingga banyak menimbulkan kekhawatiran lingkungannya (baca : orang tua/ guru). Kesalahan yang menimbulkan masalah bagi lingkungan inilah yang sering dikatakan sebagai kenakalan remaja.




Beberapa faktor timbulnya kenakalan remaja:
1.    Faktor Keluarga
Keluarga merupakan awal pembentuk kepribadian anak remaja. Kenakalan remaja bisa jadi merupakan hasil pengaruh pola asuh orang tua, diantaranya adalah kurang kasih sayang dari orang tua, disiplin orang tua yang tidak konsisten, perlakuan orang tua yang terlalu keras pada anak.
2.    Faktor Teman Bermain
Seorang teman bagi remaja adalah segala-galanya, di kalangan remaja memiliki  banyak teman merupakan suatu prestasi yang membanggakan, semakin banyak teman, makin tinggi nilai mereka di mata teman-temannya. Apalagi mempunyai teman di kalangan orang terkenal atau orang terkaya, misal : anak seorang pejabat atau artis terkenal. Bahkan orangtua pun sangat bangga bila anaknya mempunyai teman bergaul di kalangan tertentu tersebut. Walaupun kebanggaan tersebut bersifat semu belaka, karena bila tidak dapat mengimbangi pola/ gaya hidupnya, remaja akan timbul frustasi yang pada akhirnya akan melarikan kekecewaannya pada obat-obatan terlarang, mencuri, stress dll.
3.    Penggunaan Waktu Luang dan Uang Saku
Mengisi waktu luang selain diserahkan kepada kebijaksanaan remaja, ada baiknya orang tua juga ikut memikirkannya pula. Sebab adakalanya waktu luang oleh remaja diisi dengan kegiatan-kegiatan yang kurang baik misalnya ngebut tanpa pakai helm, nongkrong di pinggir jalan sampai larut malam, minum-minuman keras. Oleh karena itu orang tua harus dapat memberi perhatian pada keluarga dengan cara mengisi waktu luang dengan acara keluarga sekaligus sebagai sarana rekreasi. Sedang berkaitan dengan uang saku, orang tua kadang kala dalam memberikan uang saku anaknya “melebihi apa yang seharusnya”. Banyak orang tua berpandangan bahwa dengan uang saku banyak anak remaja akan lebih giat belajar, lebih rajin dan patuh. Tapi fakta di lapangan menunjukkan bahwa anak yang diberi uang saku banyak sering menggunakan uang dengan boros dan berfoya-foya. Pemberian uang saku kepada remaja memang harus dilakukan, namun orang tua harus juga memberikan pengertian kepada anak untuk bisa menghargai uang bahwa uang dapat diperoleh dengan kerja dan kucuran keringat maka anak harus dibiasakan untuk menghargai uang dengan cara menabung.
4.    Pergaulan Bebas
Di zaman ini kebebasan bergaul sudah di ambang mengkhawatirkan. Remaja sekarang sudah sangat “transparan” dalam bergaul dengan lawan jenis. Kalau ditengok tempat rekreasi, banyak remaja dengan cueknya bergandeng tangan bahkan berangkulan mesra tanpa malu-malu lagi. Mereka sudah kenal pacaran di awal remaja, bagi remaja punya pacar dapat meningkatkan kepercayaan diri (PD) bahkan dengan bangganya pacarnya sering dikenalkan dengan teman-teman sekelompoknya, saking bebasnya pacaran dan minimnya pengetahuan tentang seks,akibatnya banyak yang hamil di luar nikah. Oleh karena itu orang tua harus jeli dalam melihat pergaulan anak-anaknya, terutama anak remaja yang sudah mempunyai pacar, dalam memberikan pengarahan dan pengawasan terhadap remaja yang sedang jatuh cinta. Semakin muda usia anak, semakin ketat pengawasan yang diberikan, di sisi lain orang tua hendaknya selalu menjalin komunikasi dua arah dengan sebaik-baiknya sehingga anak tidak merasa takut menyampaikan masalahnya kepada orang tua, remaja hendaknya diberi pengarahan tentang kematangan seksual serta segala akibat baik dan buruk dari adanya kematangan seksual.

5.    Pengaruh Teknologi dan Media Massa
Di zaman teknologi maju ini segala informasi mudah mengaksesnya, satu sisi kemajuan di bidang teknologi berpengaruh positif dan disisi lain bersifat negatif.
Dari sisi negatif dapat ditengok berbagai sajian dari majalah maupun televisi sekarang ini banyak menyodorkan berbagai gambar yang sangat vulgar dan tidak pantas dikonsumsi oleh remaja, sama halnya dengan teknologi internet, remaja sering mampir di café internet hanya ingin melahap gambar-gambar porno maupun bermain games.
Di sini orang tua perlu sekali mengarahkan anaknya untuk bisa memeilih informasi yang bermanfat dan yang tak berguna, selain itu orang tua hendaknya membekali anak remaja dengan agama yang kuat.
Cara Mengatasi Kenakalan Remaja
Sesibuk apapun pekerja
an orang tua, hendaknya bisa memberikan arahan, pedoman dasar tentang pergaulan anak remajanya. Dengan bekal tersebut anak kemana saja pergi akan selalu ingat pesan orang tua dan dapat menjaga dirinya sendiri. Anak menjadi mandiri dan dapat dipercaya, karena dirinya sendirilah yang akan mengendalikan dirinya sendiri.

Adapun salah satu diantara caranya adalah sebagai berikut:
1.    Pola asuh Orang tua
Remaja berbuat anti sosial salah satunya adalah cara mendidik anak remaja dengan didikan “ala militer yang membabi buta”. Kurangnya kasih sayang dari orang tuanya dan sejenisny, berbagai studi mengatakan bahwa anak-anak nakal lebih cenderung berasal dari keluarga berantakan (broken home). Banyak ilmuwan sosial dan orang awam beranggapan bahwa banyak anak-anak nakal merupakan korban 
penyimpangan sosial dari kondisi keluarga abnormal. Melihat hal tersebut di atas, orang tua perlu memberi perhatian dan keteladanan bagi para remaja di dalam keluarga.
1.    Malu berbuat jahat
Dalam memberikan pendidikan orang tua hendaknya tegas dapat menunjukkan kepada anak perbedaan dan akibat dari perbuatan baik dan tidak baik. Apabila anak sudah jelas dapat membedakan kebaikan dan keburukan, tahap berikutnya adalah menumbuhkan rasa malu untuk melakukan kejahatan. orang tua bila mengetahui bahwa anaknya melakukan suatu perbuatan tidak pantas maka katakan segera bahwa hal itu memalukan. Baru berikan saran agar tidak mengulangi perbuatan lagi, bila perbuatan masih diulangi, berilah sangsi, tentunya dengan hukuman yang mendidik.
2.    Takut akibat perbuatan jahat
Apabila anak bertambah besar, orang tua selain menunjukkan bahwa suatu perbuatan tertentu tidak pantas, memalukan untuk dilakukan anaknya, maka orang tua juga memberikan uraian tentang akibat yang ditimbulkan dari perbuatan buruknya. Selain akankena anak itu (baca: hukum karma) sendiri juga perlu diterangkan pula dampak negatif yang akan diterima pula oleh orang tua, saudaranya serta lingkungannya.


Dengan rasa kasih sayang dan menumbuhkembangkan perasaan malu dan  takut melakukan perbuatan yang tidak baik ataupun berbagai bentuk kejahatan inilah yang akan menjadi “Penjaga setia” dalam diri setiap remaja. Kemanapun remaja pergi, ia akan selalu mengingat dan melaksanakan pesan orang tua. Ia akan dapat menempatkan dirinya sendiri dalam lingkungan apapun juga sehingga akan mampu membahagiakan dirinya, orangtua dan juga lingkungannya.

Belajar itu menyenangkan....

Belajar merupakan masalah setiap orang, sehingga tidak mengherankan bila belajar merupakan istilah yang tidak asing lagi bagi kita. Begitu sangat terkenalnya istilah belajar, sehinga seolah-olah setiap orang sudah dengan sendirinya mengerti akan istilah belajar. Apakah pengertian mereka tentang belajar sudah seragam? Para ahlipun belum mempunyai batasan yang seragam, apalagi orang awam. Menurut Morgan, belajar adalah setiap perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman.

Moh Surya setelah membandingkan batasan belajar dari beberapa ahli, menyimpulkan sebagai berikut: Belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang relatif menetap, baik yang dapat diamati maupun tidak dapat diamati secara langsung, yang terjadi sebagai suatu hasil latihan atau pengalaman dalam interaksinya dengan lingkungan.

Dari batasan ini dapat diidentifikasikan ciri-ciri belajar sebagai berikut:
1.   Dalam belajar ada perubahan tingkah laku, baik tingkah laku yang dapat diamati secara langsung maupun tingkah laku yang tidak dapat diamati secara langsung.
2.  Dalam belajar, perubahan tingkah laku meliputi tingkah laku kognitig, afektif, psikomotorik dan campuran.
3.  Dalam belajar, perubahan tingkah laku menjadi sesuatu yang relatif menetap. Bila seseorang dengan belajar menjadi dapat membaca, maka kemampuan membaca akan tetap dimiliki.
4.  Belajar merupakan suatu proses usaha, yang artinya belajar berlangsung dalam kurun waktu cukup lama. Hasil belajar yang berupa tingkah laku dapat diamati tetapi proses belajar sendiri tidak dapat diamati secara langsung.

Faktor yang mempengaruhi proses dan hasil belajar:
Proses belajar dan hasil belajar dipengaruhi oleh dua kelompok faktor, yaitu: Faktor yang berasal dari individu yang sedang belajar dan faktor yang berasal dari luar diri individu.
Faktor yang berasal dari individu dikelompokkan menjadi dua faktor yaitu faktor psikis dan faktor fisik, yang termasuk faktor psikis adalah kognitif, afektif, psikomotor, campuran, kepribadian. Sedangkan  yang termasuk faktor fisik antara lain kondisi: indera, anggota badan, tubuh dan organ-oragan dalam tubuh. Faktor psikis dan fisik ini, keadaannya ada yang ditentukan oleh faktor keturunan, ada yang oleh faktor lingkungan dan ada pula yang ditentukan oleh faktor keturunan dan lingkungan. Dengan uraian ini jelas bila guru harus memperhatikan perbedaan individu (dalam hal ini peserta didik) dalam memberi pelajaran kepada mereka, supaya dapat menangani sesuai dengan kondisi peserta didiknya untuk menunjang keberhasilan belajar, karena faktor-faktor yang mempengaruhi belajar peserta didik, satu dengan yang lain sangat berbeda. Adapun mengenai faktor yang berasal dari luar individu dapat dikelompokkan menjdai faktor lingkungan alam, faktor sosial ekonomi, guru, metode mengajar, kurikulum, materi pelajaran, sarana dan prasarana.

Pengaruh faktor-faktor tersebut dalam proses dan hasil belajar diuraikan sebagai berikut:
Individu dengan faktor fisik kurang baik, misalnya anggota badan lelah, sakit, anggota ada yang kurang beres, tentu tidak dapat konsentrasi belajar dan sukar menelaah meateri pelajarannya. Keadaan ini lebih kacau bila disertai kurang penglihatan dan kurang pendengaran. Dalam keadaan komplikasi seperti ini sebaiknya proses belajar dihentikan terlebih dahulu. Tetapi bila individu hanya mengalami kurang penglihatan atau kurang pendengaran saja, proses belajar dapat berlangsung, tetapi harus disesuaikan dengan keadaan individu, misalnya bila individu kurang pendengaran, proses belajar lebihbaik kkmengurangi terlibatnya pendengaran sebelum kekurangan pendengaran diperbaiki.

Individu yang mengalami ganggunan dalam salah satu faktor psikis, misal tingkat kecerdasan terlalu rendah tentu sukar menelaah materi pelajaran walaupun materi pelajaran tersebut sangat sederhana. Dari hasil penelitian para ahlli, diperkirakan 25% hasil belajar dipengaruhi oleh tingkat kecerdasan. Dengan demikian supaya prestasi belajar individu yang mempunyai IQ rendah, proses belajar harus disesuaikan kondisinya. Misalnya kalimat dalam buku-buku bacaan diusahakan pendek dan sederhana.

Individu dengan gangguan psikis yang lain misalnya sukar mengikuti, daya fantasi lemah,juga dibutuhkan proses belajar yang disesuaikan dengan kelemahannya, bila ingin peningkatan dalam prestasi belajarnya. Berbicara soal faktor psikis yang mempengaruhi belajar, tidak boleh ditinggalkan mengenai peranan arousal dan motivasi. Arousal adalah suatu peningkatan kesiapsiagaan dan ketegangan otot. Individu, supaya dapat belajar secara efisien harus dalam keadaan arousal,yang artinya harus bangun, sadar dan memperhatikan lingkungan secara tajam. Sedangkan motivasi adalah kondisi psikis yang mendorong seseorang untuk  melakukan sesuatu, yang berarti pula kondisi psikis yang mendorong belajar seseorang. Motivasi diperlukan bagi “Reinforcement” yaitu stimulus yang memperkuat dan mempertahankan tingkah laku yang dikehendaki, yang merupakan kondisi mutlak bagi proses belajar.

Mengenai faktor yang berasal dari luar diri individu, pengaruhnya antara lain sebagai berikut: Lingkungan alam yang panas, gersang atau lembab dan berbau, menyebabkan orang enggan belajar atau kalau belajar mereka sukar menangkap informasi yang diberikan. Tetapi alam yang sejuk, membantu orang lebih giat belajar, mengenai faktor sosial, lingkungan hiruk pikuk atau justru yang sunyi senyap juga mengganggu konsentrasi belajar. Ada sementara orang yang dapat belajar bila ada iringan musik atau sambil makan camilan, Tetapi ada yang sebaliknya, tanpa musik dan camilan.

Dalam lingkungan sosial ekonomi baik dalam lingkungan yang kurang maupun dalamlingkungan yanglebih, dapat mengganggu atau melancarkan proses belajar. Yang dapat mengganggu kelancaran belajar misalnya dalam lingkungan sosial ekonomi yang kurang, anak ingin melanjutkan sekolah tetapi orang tua